Hari minggu, tanggal merah, liburan akhir semester dan liburan hari raya adalah saat yang sangat menyenangkan, terutama bagi anak sekolah. Mengapa demikian? mungkin karena saat liburan, seseorang bisa menghabiskan banyak waktu bersama keluarga, saudara dan teman-teman.

Tapi, bukankah waktu yang dihabiskan untuk sekolah tidak sampai setengah hari? Apalagi di sekolah ada banyak teman sebaya yang bisa diajak bermain? Lantas, mengapa saat-saat belajar di sekolah tidak sama menyenangkan seperti bermain di rumah? Mungkinkah karena di sekolah siswa harus memakai seragam? Atau karena di sekolah banyak peraturan? Apakah mungkin karena di sekolah anak merasa tertekan karena banyak tugas?

anak belajar

Kemungkinan tersebut sangat wajar terjadi, ada banyak tuntutan yang secara tidak sadar membuat anak merasa tertekan dan mereka merasa tidak senang dengan hal tersebut. Proses belajar menjadi sesuatu yang membosankan dan kadang menakutkan. Lalu, mungkinkah hal tersebut diubah? Tentu saja mungkin.

Setiap anak memiliki sifat, karakter dan bakat yang berbeda-beda. Jadi wajar jika kemampuan akademisnya berbeda. Seseorang dengan bakat seni atau olahraga tentu akan sulit menguasai perhitungan matematika dan menghafal pelajaran bahasa.

Sebagaimana sistem pendidikan yang mulai dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini. Belajar seharusnya menjadi proses yang menyenangkan. Karena dengan belajar kita memulai petualangan baru.

Sehingga ilmu yang didapatkan selama belajar, bisa lekat di alam sadar maupun alam bawah sadar anak, tanpa harus mengerjakan banyak tugas, tanpa harus mengulang dan menghafal pelajaran, tanpa harus lembur mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Cara Agar Proses Belajar Jadi Menyenangkan

Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh guru bahkan orang tua sebagai upaya untuk menjadikan proses belajar agar menjadi lebih menyenangkan, diantaranya adalah sebagai berikut;

1. Mengajak diskusi sesuatu yang disenangi anak-anak

Misalnya dengan mengajak siswa di dalam kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Proses belajar semacam ini mengajarkan siswa lebih aktif berfikir dan kritis dalam menanggapi permasalahan, serta mengajarkan siswa untuk lebih solutif dalam menghadapi persoalan.

Awalnya mungkin akan sulit dilakukan, karena siswa tidak terbiasa. Mereka pasti akan merasa takut salah, malu untuk berbicara bahkan kadang merasa semakin tertekan karena hal tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan cara guru memimpin diskusi, murid akan menjadi terbiasa dan mudah memahami.

Mencari kesalahan siswa harus sangat dihindari dalam hal ini, guru justru harus membesarkan hati siswa dengan mendukung dan memperbaiki pernyataannya tanpa menghakimi seperti dalam sidang.

2. Memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk menjelaskan materi

Sesekali guru perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Metode seperti ini membuat murid dapat memahami posisi guru, sehingga mereka akan menghargai apa yang dilakukan gurunya selama ini.

Seseorang yang hendak mengajar pasti akan belajar terlebih dahulu sebelumnya, karena dia akan malu jika tidak memahami materi. Dengan begitu, pemahaman siswa akan materi tersebut akan semakin dalam, dan dia akan mengingat materi tersebut dalam kurun waktu yang lama.

Metode ini juga akan mengajarkan siswa mengenai public speaking, yaitu kemampuan berbicara di depan banyak orang yang sangat dibutuhkan saat ini. Berbicara di depan umum bukanlah hal yang mudah, butuh kepercayaan diri tinggi dalam mengolah dan mengutarakan kata yang ada dalam pikiran.

Belajar mengajar juga bermanfaat untuk membentuk sikap  dan karakter murid. Secara otomatis etika mereka akan terbangun, sehingga ikatan batin antara murid dan guru menjadi semakin erat. Dari situ sikap saling menghormati, saling menghargai, saling peduli akan mengalir. Guru dan murid dapat berkomunikasi layaknya sahabat tanpa mengurangi etika yang digunakan.

3. Membuat kelompok berdasarkan minat dan bakat

Setiap anak memiliki sifat, karakter dan bakat yang berbeda-beda. Jadi wajar jika kemampuan akademisnya berbeda. Seseorang dengan bakat seni atau olahraga tentu akan sulit menguasai perhitungan matematika dan menghafal pelajaran bahasa.

Orang dengan bakat tersebut lebih cenderung menggunakan otak kanan, sehingga proses belajarnya pun memerlukan metode yang berbeda dengan anak yang cenderung menggunakan otak kiri. Oleh karena itu, anak dengan kemampuan ini biasanya adalah anak yang hiperaktif dan cenderung nakal di kelas, padahal sebenarnya dia memiliki potensi yang besar dalam dirinya.

Metode belajar yang seperti biasa tidak sanggup mewadahi potensinya, sehingga ia menyalurkan potensi tersebut melalui tingkah yang diluar batas kewajaran. Guru dan orang tua seharusnya dapat memahami hal ini, agar anak dapat diarahkan ke jalan yang benar.