647 shares

Setiap orangtua pasti ingin memiliki anak yang jenius. Tentu saja, tidak ada orangtua yang mau anaknya bodoh atau kurang bisa menyelesaikan masalah dari yang sederhana hingga yang komplek. Dengan pelatihan dan pendidikan yang tepat, anak bisa dengan mudah mencapai kejeniusannya.

Jika ada yang menganggap kejeniusan anak hanya berasal dari lahir saja maka hak tersebut kurang benar. Anak yang memang terlahir jenius hanya ada beberapa persen saja di dunia ini. Sisanya, mereka bisa mencapai titik jeniusnya dengan pelatihan dan pendidikan yang tepat.

Aturan Melatih Kejeniusan Anak

anak kecil mainan laptop

Berikut ini akan dibahas apa saja yang bisa dilakukan orang tua dan pelatih untuk membantu anak mengasah otaknya supaya bisa menjadi anak jenius. Beberapa aturan ini juga berlaku untuk anak yang sudah jenius dan dilatih supaya tetap jenius. 

1. Semakin Banyak Pengalaman Semakin Bagus

Para psikologi menilai bahwa anak yang terus melakukan hal yang sama di setiap hari atau di setiap saat akan membuat anak berada di zona nyaman yang mana berpotensi membuat anak malas atau tidak mau mengambil aktivitas lain.

Anak seharusnya dibiasakan mendapat pengalaman baru yang akan membuatnya melakukan aktivitas baru dengan penyelesaian masalah yang baru pula. Motivasi anak akan terus berkembang seiring banyaknya pengalaman dalam hidupnya yang ia lalui. 

Dengan banyaknya pengalaman yang diberikan pula, anak semakin yakin bisa menghadapi apa saja yang ada di dunia ini dengan tetap berhati-hati karena belajar dari pengalaman dan tanpa minder atau kurang percaya diri.

2. Kebutuhan Emosional dan Intelektual Harus Dipenuhi

Seorang anak memang ada yang suka bertanya namun ada yang cukup pasif untuk menanyakan sesuatu kepada orang lain. Orang tua atau pendidik bisa mengembangkan kejeniusan anak mulai dari hal yang sangat kecil, yaitu saat ia bertanya. 

Bisa dikatakan semakin banyak anak melontarkan pertanyaan bagaimana dan mengapa maka kebutuhan intelektual dan emosionalnya besar. Jika dua hal ini sudah ada dalam anak, maka menjadi tugas orang tua dan pendidik untuk memanfaatkan hal tersebut demi melatih kejeniusannya.

Kejeniusan yang terlatih ini akan membuat anak semakin termotivasi dalam suatu pembelajaran. Terlebih jika pembelajaran yang diberikan adalah ilmu yang berkaitan dengan apa yang ditanyakannya.

3. Mengembangkan Keterampilan dan Bakat Anak

Sedikit terdengar klise, tetapi memang benar adanya kejeniusan anak bisa dilatih dengan terus dikembangkannya keterampilan dan bakat yang ia miliki. Untuk bisa mengetahui keterampilan anak, orang tua dan pendidik bisa memberikan anak kesempatan melakukan beberapa aktivitas atau olahraga.

Aktivitas mana yang ia sukai dan yang paling berbuah sempurna, itulah aktivitas yang ada sangkut pautnya dengan bakat anak. Orang Tua juga bisa mengikutkan anak dalam kursus tertentu. Dengan demikian, akan terlihat jelas apakah anak bakat dalam akademis, olahraga, atau kesenian.

4. Melatih Anak Untuk Menerima Kegagalan

Ada dua jenis respon orang gagal, yaitu orang gagal yang sudah tidak mau melakukan apa-apa lagi dan orang gagal yang justru setelahnya kembali bangkit serta belajar dari kegagalan tersebut. Sejak dini anak bisa dilatih menjadi sosok yang tidak takut gagal dan menerima kegagalan dengan hal yang positif.

Anak bisa disadarkan bahwa kegagalan bukanlah sebuah akhir melainkan sebuah awal untuk memupuk keberhasilan atau kesuksesan.  Contoh nyatanya bisa diberikan saat anak mendapat nilai buruk. Orang tua bisa terus memotivasi anak untuk kembali belajar lebih giat supaya di tugas selanjutnya bisa mendapatkan nilai yang lebih baik.

5. Tidak Memuji Kemampuan

Bukanlah kemampuan anak yang seharusnya dipuji oleh orang lain, melainkan usaha yang telah ia lakukan. Hal ini akan memberikan pengaruh yang besar dalam personalitas anak sampai dewasa nanti. Jika ia sadar bahwa yang terpenting adalah usaha maka ia akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ia tidak akan melulu berfokus pada hasil yang bagus karena ia sudah ditanamkan bahwa usaha adalah hal yang terpenting.

6. Menguji Kemampuan Anak

Kurang berkesinambungan dengan poin sebelumnya, namun suatu saat orang tua harus menguji kemampuan yang dimiliki anak atau IQ anak. Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak yang jenius, dan hal ini biasa dibuktikan dengan poin IQ yang tinggi.

Ada beberapa indikator yang bisa mencerminkan kejeniusan anak. Indikator pertanian adalah cepat tidaknya anak dalam mampu membaca, banyak tidaknya anak bertanya, memiliki daya ingat yang lebih dari anak seusianya, menyukai musik, bisa mengubah peraturan pada permainan, memiliki humor yang canggih, memiliki minat pada bidang tertentu, dan lain sebagainya.

Dengan mengetahui enam aturan umum untuk anak jenius di atas, kini orang tua dan pendidik bisa mengaplikasikannya supaya anak bisa keluar dari zona nyaman dan mengembangkan kejeniusannya.


Bagikan ke Teman Anda!

647 shares

Bagaimana Tanggapan Anda?

Suka Suka
0
Suka
Jelek Jelek
0
Jelek

Komentar

komentar